Analisa Wacana Kritis

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Oleh Jan Blommaert dan Chris Bulcaen

Sumber: Annual Review of Anthropology, Vol. 29 (2000), pp. 447-466

Dipublikasikan oleh: Annual Reviews

Kata kunci bahasa, teori sosial, kuasa, ideologi, kritik

Abstrak Tulisan ini menyediakan survei analisa wacana kritis (critical discourse analysis/CDA), suatu mazhab analisa wacana baru yang mengkaji relasi kuasa dan ketimpangan dalam bahasa. CDA secara eksplisit bertujuan untuk memasukan telaah teoritik-sosial ke dalam analisa wacana dan mendorong komitmen sosial dan intervensionisme ke dalam penelitian. Ciri programatik utama dan ranah kajian CDA didiskusikan, dengan penekanan pada upaya-upaya menuju pembentukan teori oleh salah satu akademisi paling terkemuka CDA, Norman Fairclough. Bagian lain meninjau asal-muasal dan perkembangan disiplin ilmu CDA, disebutkan pula beberapa kritikan yang belakangan muncul, dan menempatkan CDA di dalam gambaran yang lebih luas dari paradigma kritis baru yang berkembang dalam sejumlah (sub)disiplin berorientasi bahasa. Dalam paradigma kritis ini, topik-topik semacam ideologi, ketimpangan, dan kuasa menjadi bahasan utama, dan banyak akademisi yang secara produktif berusaha memasukan telaah teoritik-sosial ke dalam kajian bahasa.

Pengantar

CDA muncul pada akhir 1980an sebagai perkembangan programatik dalam kajian-kajian wacana Eropa yang diujungtombaki oleh Norman Fairclough, Ruth Wodak, Teun van Dijk, dan lainnya. Sejak itu, CDA menjadi salah satu cabang analisa wacana yang paling berpengaruh dan mengemuka (seperti yang dapat dilihat dalam antologi oleh Jaworski & Coupland 1999). Kami menyediakan suatu tinjauan umum atas kekuatan utama gerakan ini. Kami diskusikan perhatian utamanya secara kritis, dan menempatkannya dalam panorama perkembangan bahasa yang lebih luas. Dengan upaya itu, kami berharap dapat menunjukkan bahwa perubahan kritis dalam kajian-kajian bahasa sama sekali tidak terbatas pada pendekatan tunggal apapun, melainkan merepresentasikan suatu proses yang lebih umum dari penggabungan (sebagian) dalam teori dan praktik penelitian-penelitian mengenai bahasa. CDA menyediakan suatu pendorong metodologi dan teori yang krusial untuk paradigma ini, namun CDA dapat mengambil manfaat dari integrasi yang lebih dekat dengan perkembangan-perkembangan baru.

Analisa Wacana Kritis

Program CDA

Tujuan CDA adalah untuk menganalisa “relasi-relasi dominasi, diskriminasi, kuasa, dan kendali yang samar maupun transparan seperti yang terlihat dalam bahasa” (Wodak 1997:173). Lebih spesifik lagi, “[CDA] mengkaji interaksi-interaksi sosial yang nyata dan kerap berjangkauan luas yang mengambil bentuk (sebagian) berupa bahasa. Pendekatan kritis bersifat khas dalam pandangan-pandangan (a) hubungan antara bahasa dengan masyarakat, dan (b) hubungan antara analisa dengan praktik-praktik yang dianalisa” (Wodak 1997:173).

CDA menyatakan bahwa wacana dibentuk dan dikondisikan secara sosial. Selain itu, wacana merupakan obyek kuasa yang tersamar dalam masyarakat modern dan CDA bertujuan untuk membuatnya lebih nampak dan transparan.

Karakteristik penting perubahan ekonomi, sosial, dan budaya dari modernitas lanjut ialah mereka ada sebagai wacana di samping proses-proses yang terjadi di luar wacana, dan sebaliknya proses-proses yang terjadi di luar wacana itu secara mendasar dibentuk oleh wacana-wacana itu.

Chouliaraki dan Fairclough (1999:4)

Usaha yang paling menyeluruh dan ambisius untuk menteorisasikan program CDA tidak diragukan lagi ada dalam buku Discourse and Social Change (1992a) karya Fairclough. Fairclough membangun suatu teori sosial mengenai wacana dan menyediakan suatu cetak biru metodologis untuk analisa wacana kritis dalam praktik. [Pernyataan programatik lain dari CDA dapat ditemukan dalam karya Fairclough (1992b, 1995b), Chouliaraki & Fairclough (1999), van Leeuwen (1993), van Dijk (1993a, c, 1997), dan Wodak (1995, 1997)].

Fairclough (1992a) membuat sketsa suatu kerangka kerja tiga dimensi untuk memahami dan menganalisa wacana. Dimensi pertama adalah wacana-sebagai-teks, yakni karakteristik bahasa dan organisasi instansi kongkret wacana. Pilihan-pilihan dan pola-pola dalam kosa kata (yakni ujaran, metafora), tata bahasa (yakni transivitas [transivity], modalitas), kohesi (yakni kata penghubung, skemata), dan struktur teks (yakni episoding, turn-taking system) seharusnya dianalisa secara sistematik (lihat bawah untuk ketergantungan CDA pada cabang-cabang tertentu dari bahasa). Pemakaian bentuk kata kerja pasif dalam liputan berita, dapat berdampak pada pengaburan agen proses politik. Menurut Fairclough (1992a), perhatian terhadap fitur tekstual yang kongkret ini membedakan CDA dari proses pendekatan serupa seperti pendekatan Michael Foucault.

Dimensi kedua adalah wacana-sebagai-praktik-diskursif, yakni wacana sebagai sesuatu yang diproduksi, diedarkan, disebarkan, dan dikonsumsi di dalam masyarakat. Fairclough melihat proses-proses itu sebagian besar dalam pengertian sirkulasi objek bahasa yang kongkret (teks spesifik atau tipe-teks yang diproduksi, diedarkan, dikonsumsi, dan seterusnya), namun jika dibandingkan dengan Foucault, nampak jelas hanya sedikit waktu yang diluangkan terhadap sumberdaya dan kondisi-kondisi “makro” lain pada produksi dan distribusi wacana. Mendekati wacana sebagai praktik diskursif mengandung arti bahwa dalam menganalisa kosa kata, tata bahasa, kohesi, dan struktur teks, perhatian seharusnya diberikan terhadap tindakan berbicara, koherensi, dan interteksualitas—tiga aspek yang mengaitkan suatu teks dengan konteksnya. Fairclough membedakan antara “manifest intertextuality” (yakni secara terbuka mencomot teks-teks lain) dan “constitutive intertextuality” (yakni teks yang terdiri dari elemen-elemen heterogen: konvensi generik, tipe wacana, register, style). Salah satu aspek penting dari bentuk pertama adalah representasi wacana: bagaimana ujaran yang dicuplik dipilih, diubah, dikontekstualkan (kontribusi terbaru unruk mempelajari representasi wacana, lihat Baynham & Slembrouck 1999).

Dimensi ketiga adalah wacana-sebagai-praktik-sosial, yakni efek ideologi dan proses hegemonik yang di dalamnya wacana adalah suatu feature (untuk pemakaian CDA terhadap teori-teori dan konsep-konsep Althusser dan Gramsci, lihat bawah). Hegemoni menaruh perhatian pada kuasa yang dicapai melalui pembentukan aliansi dan pengintegrasian kelas dan kelompok melalui kesepakatan, sehingga “artikulasi dan reartikulasi tatanan wacana merupakan hal yang dipertaruhkan dalam perjuangan hegemonik” (Fairclough 1992a:1993). Dari ketiga dimensi ini Fairclough membangun pendekatannya untuk perubahan: perubahan hegemonik, dan ini dapat disaksikan dalam perubahan diskursif, ketika perubahan diskursif dipandang dari sudut intertekstualitas. Cara di mana wacana direpresentasikan, diucapkan kembali, atau ditulis kembali menyoroti kemunculan tatanan wacana baru, perjuangan atas normativitas, upaya-upaya untuk mengendalikan, dan perlawanan terhadap rejim kuasa.

Fairclough (1992a) sangat eksplisit berkaitan dengan ambisinya: model wacana yang ia kembangkan dikerangkai dalam suatu teori proses ideologi dalam masyarakat, karena wacana dilihat dalam pengertian proses hegemoni dan perubahan dalam hegemoni. Fairclough berhasil mengidentifikasi proses hegemonik berskala besar seperti demokratisasi, komodifikasi, dan teknologisasi dengan berdasarkan konstruksi heteroglosik (heteroglossic) dari genre dan gaya (style) teks (lihat contoh di bawah). Ia juga mengidentifikasi beragam cara yang di dalamnya individu-individu bergerak melalui semacam rejim diskursif yang terlembagakan, diri-diri yang mengkonstruksi, kategori-kategori sosial, dan realitas sosial. Pada saat yang sama, arah umum adalah tunggal yang di dalamnya teori sosial digunakan untuk menyediakan suatu metawacana bahasa dan yang di dalamnya sasarannya adalah teknik analisa teks yang disempurnakan dan lebih berdaya.

Titik khusus kritik CDA adalah rangkaian bahasa/wacana/wicara(speech) dan struktur sosial. CDA berusaha menyingkap cara-cara yang di dalamnya struktur sosial mempengaruhi pola-pola, relasi-relasi, dan model-model wacana (dalam bentuk relasi-relasi kuasa, efek-efek ideologi, dan seterusnya), dan dalam memperlakukan relasi-relasi itu sebagai masalah, para peneliti CDA menempatkan dimensi kritis dari penelitian mereka. Tidaklah cukup untuk sekedar membeberkan dimensi sosial dari pemakaian bahasa. Dimensi-dimensi itu adalah obyek evaluasi moral dan politik dan penelaahan dimensi-dimensi itu seharusnya menimbulkan dampak dalam masyarakat: memberdayakan kaum lemah, memberi suara kaum yang terbungkam, menyingkap penyimpangan kekuasaan, dan memobilisasi masyarakat untuk membetulkan penyimpangan-penyimpangan sosial. CDA mendorong intervensionisme dalam praktik-praktik sosial yang ditelitinya secara kritis. Toolan (1997) bahkan menetapkan suatu pendirian baku: CDA seharusnya membuat suatu rumusan untuk perubahan dan menganjurkan pembetulan-pembetulan untuk wacana-wacana khusus. Maka CDA secara terbuka mengusung komitmen-komitmen yang kuat untuk perubahan, pemberdayaan, dan berorientasi praktik.

Metodologi

Pada tingkat metodologi, CDA menyajikan suatu gambaran yang beragam. Demi alasan historis (lihat bawah), bahasa fungsional-sistemik umum dipakai, namun kategori-kategori dan konsep-konsep juga dipinjam dari wacana-wacana yang lebih mainstream dan bahasa teks, stylistics, semiotika sosial, kognisi sosial, retorika, dan lebih belakangan, analisa perbincangan (conversation analysis). Wodak dan para sejawatnya telah mengembangkan suatu metode historis-wacana yang bertujuan melacak (sejarah (intertekstual) dari frase-frase dan argumen-argumen (lihat sebagai contoh, Wodak 1995, van Leeuwen & Wodak 1999). Metode itu mulai dengan dokumen asli (yakni dalam analisa mereka mengenai skandal Waldheim, dokumen Wehrmacht mengenai aktivitas perang di Balkan), diperkuat dengan penelitian etnografi mengenai masa lalu (yakni wawancara dengan para veteran perang), dan melakukan pengumpulan data yang merentang lebar dan penelaahan laporan berita-berita kontemporer, wacana politik, kepercayaan-kepercayaan, dan wacana.

Beberapa praktisi CDA menerima keragaman metodologi (Chuliaraki & Fairclough 1999:17); praktisi lain berusaha membuat suatu kerangka kerja yang sistematik dan terfokus, berdasarkan, sebagai misal, pada konsep-konsep genre dan ranah (field) serta pada representasi sosiosemantik dari aktor-aktor sosial (van Leeuwen 1993, 1996).

Meskipun akademisi-akademisi seperti Kress (1997) dan Kress $ van Leeuwen (1996) (lihat juga Slembrouck 1995) menekankan pentingnya memasukan gambar-gambar visual ke dalam konsep wacana dan bergerak ke arah konsepsi semiosis multimodal yang lebih luas, bias umum di dalam CDA adalah mengarah konsep-konsep teks yang didefinisikan secara linguistik, dan struktur tekstual diskursif-linguistik dikaitkan dengan suatu fungsi krusial dalam produksi sosial dalam ketimpangan, kuasa, ideologi, otoritas, atau manipulasi (van Dijk 1995).

Topik-topik yang diminati

Kecenderungan CDA untuk menggarap persilangan bahasa dan struktur sosial terlihat dalam pilihan topik-topik dan domain-domain analisa [panorama dapat ditemukan dalam, misalnya, dalam Schäffner & Wenden (1995), Caldas-Coulthard (1996), Blommaert & Bulcaen (1997)]. Praktisi CDA cenderung untuk menggarap topik-topik yang dapat diterapkan dan sudah diterapkan dan domain-domain sosial seperti berikut ini:

1. Wacana politik Lihat, misal, Wodak (1989), Chilton dkk (1998), Fairclough (1989, 1992a), dan Fairclough & Mauranen (1997).

2. Ideologi Wacana dilihat sebagai alat yang dengannya (dan di dalamnya) ideologi-ideologi diproduksi. Ideologi itu sendiri adalah suatu topik yang penting dalam CDA. Topik tersebut bisa dilihat dalam karya Hodge dan Kress (1979). Yang lebih belakangan, van Dijk (1998) memproduksi suatu teori sosiokognitif mengenai ideologi.

3. Rasisme Perhatian khusus di dalam kajian ini diberikan pada rasisme. Van Dijk mengemuka sebagai penulis yang subur (1987, 1991, 1993b), tapi topik ini juga dikaji oleh banyak peneliti lain (untuk survei, lihat Wodak dan Reisigl 1999). Belakangan, berkaitan dengan isu rasisme adalah munculnya suatu minat dalam wacana mengenai imigrasi (misalnya, Martín Rojo dan van Dijk 1997, van Leeuwen dan Wodak 1999).

4. Wacana ekonomi lihat misalnya Fairclough (1995b). Isu globalisasi telah diformulakan sebagai topik penting untuk CDA (Slembrouck 1993, Chouliaraki & Fairclough 1999:94).

5. Budaya promosi dan iklan Misalnya, lihat Fairclough (1989, 1995b), Slembrouck (1993), dan Thornborrow (1998).

6. Bahasa media Misalnya, lihat Fairclough (1995a), van Dijk (1991), Kress (1994), dan Martín-Rojo (1995).

7. Gender Lihat terutama representasi perempuan di media (misalnya Talbot 1992; Caldas-Coulthard 1993, 1996; Clark & Zyngier 1998; Walsh 1998; Thornborrow 1998).

8. Wacana Institusional Bahasa memainkan suatu peran dalam praktik-praktik institusional seperti komunikasi pasien-dokter (misal, Wodak 1997), kerja sosial (misal Wodak 1996, Hall dkk 1997), dan birokrasi (Sarangi & Slembrouck 1996).

9. Pendidikan lihat misalnya Kress (1997) dan Chouliaraki (1998). Pendidikan dilihat sebagai area utama untuk reproduksi relasi-relasi sosial, termasuk representasi dan formasi identitas, tapi juga kemungkinan perubahan. Fairclough dan sejawatnya mengembangkan suatu pendekatan kesadaran bahasa kritis (critical language awareness/CLA) yang mendorong stimulasi kesadaran kritis dengan murid-murid wacana pedagogis dan alat-alat didaktik (bandingkan Clark dkk 1989; Fairclough 1992c, Ivanic 1998).

10. Literacy Kajian-kajian CDA terkait dengan analisa sosiolinguistik dan antropologi yang memandang literacy sebagai “praktik yang dikondisikan (situated practice)” (misal Heath 1983, Street 1995), misal dalam konteks komunitas lokal (Harton & Hamilton 1998) atau pendidikan (baynham 1995, New London Group 1996, Cope & Kalantzis 2000). Para akademisi yang menggarap “kajian-kajian literacy baru” ini menggabungkan usahanya dalam serangkaian buku baru (Barton dkk 2000, Cope & Kalantzis 2000, Hawisher & Selfe 2000).

Dalam semua domain itu, isu-isu ketidakimbangan kekuasaan, eksploitasi, manipulasi, dan ketimpangan struktur disoroti.

Teori sosial

CDA jelas memandang wacana sebagai suatu fenomena sosial dan akibatnya berusaha memperbaiki pondasi teoritis-sosial untuk mempraktikan analisa wacana disamping untuk menempatkan wacana dalam masyarakat. Aspek mendasar CDA adalah klaimnya untuk mengambil titik mulainya dalam teori sosial. Dua arah dapat dibedakan. Di satu sisi, CDA menunjukkan minat yang jelas dalam teori-teori kuasa dan ideologi. Yang paling umum dalam hal ini adalah pemakaian formulasi Foucault (1971, 1977) mengenai “tatanan wacana” dan “pengetahuan-kuasa,” pengertian Gramsci (1971) mengenai “hegemoni” dan konsep Althusser (1971) mengenai “aparatus negara ideologi” dan “interpelasi.” Karya-karya yang di dalamnya hubungan-hubungan antara wacana dengan proses kuasa diungkapkan juga dikutip secara luas, seperti Laclau dan Mouffe (1985) dan Thompson (1990). Dalam Fairclough (1992a), misalnya, teori-teori dan konsep-konsep itu diberi suatu terjemahan linguistik dan mengarah pada obyek-obyek wacana dan pola-pola komunikatif dalam suatu upaya untuk mempertimbangkan hubungan antara praktik bahasa dengan struktur sosial, dan untuk menyediakan penjelasan yang mendasar secara linguistik untuk perubahan dalam hubungan-hubungan itu.

Arah kedua yang dapat dibedakan adalah suatu upaya untuk mengatasi determinisme strukturalis. Inspirasinya di sini biasanya dapat ditemukan dalam teori Gidden mengenai strukturasi, di mana suatu model dinamis hubungan antara struktur dengan agensi diajukan. Gidden berguna sebagai latar belakang teoritis untuk klaim CDA bahwa produk bahasa aktual menggantikan relasi dialektik dengan struktur sosial, yakni peristiwa-peristiwa komunikatif-linguistik dapat bersifat formatif untuk struktur dan proses sosial yang lebih besar. Gamblangnya, ketika hubungan antara tindakan komunikatif-linguistik (atau semiotik lain) dan proses-proses sosial didiskusikan, rujukan kerap diambil dari karya Bourdieu (1991) dan Habermas (1984, 1987). Karya Bourdieu juga berpengaruh dalam kajian mengenai praktik-praktik pendidikan.

Pemakaian teori-teori itu sebagian dapat dilacak kembali pada pengaruh kajian budaya atas CDA, khususnya kegiatan-kegiatan Centre for Contemporary Cultural Studies Universitas Birmingham. CDA masih selangkah dengan kajian-kajian budaya dalam hal ia terus, meski secara kritis, terlibat dengan tren-tren penelitian baru, misalnya posmodern, feminis, poskolonial, dan kajian globalisasi (untuk “memikir-ulang” CDA yang bertujuan untuk melandaskannya secara lebih kokoh dalam teori sosial, lihat Chouliaraki & Fairclough (1999)].

Penting kiranya untuk menyadari bahwa kendati inputnya berasal dari beragam disiplin sosial-ilmiah, CDA seharusnya terutama memposisikan di dalam lingkungan bahasa, dan keberhasilannya seharusnya dinilai terutama dengan ukuran bahasa dan analisa wacana dan pragmatis yang berorientasi bahasa.

Sebuah contoh: Conversationalization

Bagi Fairclough, banyak ranah kehidupan publik kontemporer dicirikan oleh “meluasnya aproriasi praktik-praktik diskursif kehidupan sehari-hari dalam domain publik” (Fairclough & Mauranen 1997:91). Model ekonomi baru dari “akumulasi yang fleksibel,” misalnya diterapkan melalui perubahan-perubahan praktis dalam organisasi selain melalui produksi wacana manajerial yang melimpah yang menjadi hegemonik. Bentuk-bentuk kerja yang fleksibel juga melibatkan pemakaian baru dari bahasa, seperti “simulasi rutin dari spontanitas konvensional” (Chouliaraki & Fairclough 1999:5), yang mempunyai dampak kuat dan dapat merusak. Karena tingginya ciri diskursif-linguistik dari banyak perubahan dalam modernitas lanjut dan meningkatnya desain dan komodifikasi bentuk-bentuk bahasa, suatu analisa kritis wacana menjadi lebih penting dalam ranah-ranah yang beragam seperti pemasaran, kerja pelayanan sosial, dan wacana politik.

Dalam ranah politik misalnya, Fairclough & Mauranen (1997) membandingkan wawancara-wawancara politik dalam jangka waktu 35 tahun dan mengidentifikasi perubahan yang jelas dari gaya wawancara yang formal dan kaku menuju model interaksi yang mirip percakapan sehari-hari. Wawancara politik belakangan ini dicirikan oleh bentuk-bentuk perbincangan yang sederhana dan lazim, bentuk-bentuk pidato resiprokal, dan pengulangan. Lebih dari itu, mereka mencatat bagaimana gaya pidato Margareth Thatcher pada tahun 1983 melintasi batasan-batasan kelas sosial: ia “mengapropriasi dan mensimulasi berbagai macam suara conversational,” di mana Harold Macmillan pada tahun 1958 “mengusung suatu suara conversational yang spesifik kelas secara konsisten” (Fairclough & Mauranen 1997:117). Maka, gaya conversational Thatcher menunjukkan bagaimana wacana politik pada tahun 1980an telah “mengkolonisasi” genre percakapan sehari-hari untuk mencapai hegemoni dan meningkatkan legitimasi bagi suara otoritas.

Bagi Fairclough, perkembangan ini dalam wacana politik merupakan indikasi perubahan yang lebih luas dalam tatanan wacana di masyarakat-masyarakat kontemporer. Perkembangan-perkembangan ini dapat diringkas dalam tiga kategori besar: demokratisasi, komodifikasi, dan teknologisasi (Fairclough 1992a: 200-24). Secara umum, perkembangan-perkembangan itu semua menyentuh pada cara-cara yang di dalamnya genre-genre wacana dari satu lingkup kehidupan mempengaruhi yang lain untuk tujuan-tujuan fungsional, dan ini bertolak dari suatu latar belakang perubahan dalam hubungan kekuasaan di masyarakat. Maka, bahasa periklanan bergerak ke dalam domain conversational dalam suatu upaya untuk melekatkan pesan-pesannya dengan perhatian konsumen individu (sebagaiman digambarkan, misal, pemakaian ucapan langsung, seperti “apa KAMU punya kartu BarclayMU?”). Serupa dengan itu, komunikasi pemerintah mengadopsi gaya yang lebih conversational dan kurang formal (misal mengijinkan masyarakat untuk secara langsung merespon pesan-pesan pemerintah), dan profesi lain seperti kerja pelayanan sosial mengikuti jejak yang sama. Meski hal ini memungkinkan komunikasi yang lebih efektif, gaya semacam ini mengaburkan batasan-batasan antara informasi dengan bujukan, serta mengaburkan hubungan kekuasaan “obyektif” dengan menyiratkan kesetaraan hubungan conversational dalam interaksi-interaksi institusional yang asimetris.

Dalam tipe penelitian ini, analisa data empiris secara langsung mengenalkan gambaran yang lebih luas dari apa yang wacana dan mode-mode wacana lakukan dalam masyarakat. Meski demikian, pertanyaannya tetap apakah transformasi berskala besar semacam itu dalam masyarakat dapat ditunjukkan dengan berdasarkan data empiris yang, akibatnya, terbatas dalam jangkauan, ukuran, dan rentang waktu. Akan menarik, misalnya, untuk membandingkan “gaya conversational” Macmillan dengan Thatcher dengan John Major dan Tony Blair.

Menempatkan CDA

Sejarah CDA

Survey historis seperti karya Wodak (1995), rujukan dibuat untuk “linguist kritis” Universitas East Anglia, yang pada tahun 1970an berpaling pada isu-isu seperti (a) pemakaian bahasa dalam institusi-institusi bahasa, (b) hubungan antara bahasa, kuasa, dan ideologi, dan (c) yang memproklamirkan suatu agenda sayap-kiri kritis untuk bahasa. Karya-karya Hodge dan Kress (1979) dan Fowler dkk (1979) memberikan pengaruh penting dalam hal ini (untuk survey, lihat Fowler 1996, Birch 1998). Karya mereka berdasarkan pada bahasa semiotik-sosial dan fungsional-sistemik dari Michael Halliday, yang metodologi bahasanya masih dianggap sebagai krusial bagi praktik-praktik CDA karena ia menawarkan kategori-kategori bahasa yang jelas dan ketat untuk menganalisa hubungan-hubungan antara wacana dan makna sosial (lihat, misalnya Chouliaraki dan Fairclough 1999). Selain tiga metafungsi Halliday (ideational, interpersonal, textual meaning), analisa fungsional-sistemik dari transivitas, agensi, nominalisasi, mood, arus informasi, dan register telah diadopsi oleh CDA. Martin (2000) meninjau manfaat bahasa fungsional-sistemik untuk CDA, menganjurkan agar CDA seharusnya menerapkan pengertian fungsional-sistemik secara lebih sistematis dan dan konsisten.

Buku Language and Power (1989) karya Fairclough umumnya dianggap sebagai publikasi landmark untuk “awal” CDA. Dalam buku ini, Fairclough terlibat dalam suatu analisa yang dipolitisir secara eksplisit mengenai wacana-wacana yang “kuat” di Inggris [iklan dan retorika politik Thatcherite (lihat atas)] dan menawarkan sintesa metode bahasa, obyek analisa, dan komitmen politik yang menjadi ciri khas CDA.

Secara umum, ada suatu kesan “CDA inti” yang secara tipikal berkaitan dengan karya Norman Fairclough, Ruth Wodak, dan Teun van Dijk, sejumlah pendekatan-pendekatan yang berkaitan dengan CDA seperti psikologi sosial diskursif (misal, karya Michael Billig, Charles Antaki, Margaret Wetherell), semiotika sosial dan karya tentang multimodalitas dalam wacana (misal, Gunther Kress dan Theo van Leeuwen), bahasa fungsional-sistemik (misal, Jay Lemke), dan analisa wacana politik (misal, Paul Chilton).

Meskipun pengaruh karya grammatikal dan semiotika-sosial Halliday diakui dan dapat dipastikan, rujukan terhadap pendahulu analisa-wacana yang lain (seperti Michel Pêcheux) adalah post hoc dan diispirasi lebih karena hasrat untuk membangun suatu tradisi yang koheren ketimbang jaringan pengaruh historis yang sejati. Orang dapat juga mencatat bahwa lingkup sumber-sumber yang dimobilisasi untuk mendukung CDA dipilih secara selektif. Rujukan terhadap karya yang dilakukan di antropologi bahasa dan bahasa Amerika tidaklah banyak (dengan pengecualian penelitian mengenai literacy (lihat atas), sebagaimana rujukan-rujukan kepada beberapa pendahulu yang mempunyai pengaruh nyata pada banyak pendekatan “kritis” terhadap bahasa (misal, Ferruccio Rossi-Landi, Louis-Jean Calvet) dan terhadap karya kritis dalam aliran lain kajian bahasa (misal, sosiolinguistik). Relevansi yang potensial dari tradisi yang sebagian besar diabaikan itu didiskusikan di bawah.

Meskipun ada publikasi landmark dan beberapa figur utama yang diakui, batasan-batasan gerakan CDA di samping kekhususan programnya tampak muncul dalam suatu gaya ad hoc (untuk tujuan khusus tertentu). Akademisi-akademisi yang diidentifikasi dengan label CDA tampaknya disatukan oleh persamaan domain dan topik investigasi yang didiskusikan di atas, suatu komitmen yang eksplisit untuk aksi sosial dan untuk sayap kiri politik, suatu tujuan bersama yakni mengintegrasikan analisa bahasa dengan teori sosial dan—meskipun dengan cara yang lebih beragam—dengan suatu kecenderungan untuk analisa empiris di dalam suatu perangkat paradigma, termasuk linguistik fungsional-sistemik Hallidayan, analisa conversation, pendekatan yang diilhami oleh Lakoff untuk metafora, teori argumentasi, bahasa teks, dan psikologi sosial.

Terdapat beberapa tendensi di dalam CDA untuk mengidentifikasi dirinya sebagai suatu “mazhab,” dan sejumlah tulisan secara programatik diorientasikan ke arah pembentukan suatu komunitas akademisi yang mempunyai perspektif sama, dan pada taraf tertentu juga mempunyai metodologi yang mirip dan kerangka kerja teoritis. Fairclough (1992a:12-36) mensurvey suatu beragam pendekatan analisa wacana, dikualifikasikan sebagai “non-kritis,” berkebalikan dengan pendekatan kritisnya. Praktik-praktik yang membentuk batasan semacam itu diungkapkan dalam suatu istilah tegas sehingga menghasilkan pembagian-pembagian yang sugestif di dalam analisa wacana—“kritis” versus “non-kritis”—yang sukar untuk dipertahankan dalam realitas (suatu komentar juga dilontarkan oleh Widdowson (1998)].

CDA dikenal sangat berhasil menarik minat mahasiswa dan akademisi. CDA mempunyai forum publikasi utama dalam jurnal Discourse & Society, mulai tahun 1990 dan diedit oleh van Dijk (lihat misal van Dijk 1993c); selain itu, kini dibentuk suatu program pertukaran interuniversitas Eropa yang dicurahkan untuk CDA, dan berbagai macam situs dan forum diskusi elektronik menawarkan kontak dan informasi mengenai sudut pandang dan proyek CDA. Usaha aktif untuk institusionalisasi ini mempunyai dampak sebagai berikut. Pada taraf tertentu, karakteristik “mazab” CDA menciptakan, untuk beberapa hal, suatu kesan tertutup dan eksklusif dalam pengertian “kritik” sebagai suatu mode, isi, dan produk analisa wacana.

Tanggapan Kritis

Reaksi kritis terhadap CDA berpusat pada isu-isu penafsiran dan konteks. Dalam suatu rangkaian artikel tinjauan, Widdowson (1995, 1996, 1998) mengkritik CDA karena mengaburkan perbedaan penting antara konsep, disiplin, dan metodologi (untuk reaksi lihar Fairclough 1996, Chouliaraki & Fairclough 1999:67). Pertama, ia mencatat kekaburan banyak konsep (apa tepatnya yang dimaksud dengan wacana, struktur teks, praktik, dan mode?) dan model-model (berapa banyak fungsi dan tingkat, dan bagaimana membuktikannya?). Kerancuan ini tidak bisa dibantu dengan penggunakan retoris konsep-konsep dari teori sosial. Kedua, Widdowson berpendapat bahwa, dalam analisa yang sebenarnya, dan meskipun klaim teoritisnya mengatakan sebaliknya, CDA menafsirkan wacana di bawah samaran analisa kritis. CDA tidak menganalisa bagaimana teks dapat dibaca dengan banyak cara, atau di bawah lingkungan sosial apa teks itu diproduksi dan dikonsumsi. Kebanyakan penafsiran lebih mempertanyakan mengenai representasi (dapatkah analis berbicara untuk rata-rata konsumen teks?), seletivitas, parsialitas, dan prasangka (lihat juga Stubb 1997). Masalah paling mendasar bagi Widdowson adalah bahwa CDA menyamaratakan signification dengan significance, dan terutama semantik dengan pragmatik. Teks dicari makna ideologis tertentunya yang dipaksakan kepada pembaca. Pandangan mengenai agensi manusia yang agak deterministik ini juga dikritik oleh Pennycook (1994).

Debat kritis lain tentang CDA juga dimulai oleh Schegloff (1997) dan diteruskan oleh yang lainnya (Wetherell 1998; Billig 1999a,b; Schegloff 1999a,b; lihat juga Chouliaraki & Fairclough 1999:7). Menurut Schegloff, terdapat tendensi untuk mengasumsikan relevansi yang apriori mengenai aspek konteks dalam penelitian CDA: Para analis memproyeksikan bias politik dan prasangka mereka sendiri ke dalam data mereka dan menganalisanya sesuai dengan hal itu. Pola-pola relasi kekuasaan yang stabil tidak didetailkan, kerap berdasarkan kurang lebih pada pemahaman politik dan sosial yang awam, dan kemudian diproyeksikan pada (dan ke dalam) wacana. Proposal Schegloff sendiri adalah analisa conversational ortodoks: konteks-konteks yang relevan seharusnya dibatasi pada konteks yang dengannya partisipan dalam suatu perbincangan secara aktif dan konsekuen berorientasi [suatu posisi yang juga mudah untuk dikritik (lihat, misal Duranti 1997:245-79). Status konteks yang problematis dalam analisa CDA juga diamati oleh Blommaert (1997a), yang mengkualifikasikan pemakaian konteks dalam beberapa karya CDA sebagai naratif dan melatarbelakangi (backgrounding). Blommaert juga mencatat penerimaan “tidak kritis” terhadap representasi historis tertentu dan realitas sosial sebagai “fakta-fakta latar (background facts)” dalam analisa.

Suatu Paradigma Kritis Baru

Premis bahwa kritik berasal dari investigasi dan tindakan mempersoalkan hubungan antara bahasa dengan struktur sosial jelas tidak terbatas pada CDA. Demikian pula tendensi untuk mendukung premis ini dengan cara menelaah dari ranah penelitian teoritik-sosial lain, berusaha memberi pondasi historis dan/atau budaya, sosial yang lebih berkelanjutan untuk analisa bahasa. Kenyataannya, orang dapat mengatakan bahwa baik elemen-elemen yang mencirikan suatu paradigma kritis baru kini dapat diamati dalam antropologi kritis, sosio linguistik, pragmatik, bahasa terapan, dan ranah-ranah lain. Kini ada penelitian yang jauh lebih kritis ketimbang yang sedang dikembangkan di bawah arahan CDA saja, dan salah satu hal yang mengejutkan dalam literatur CDA adalah langkanya rujukan terhadap karya yang melimpah ini.

Apa yang menjadi ulasan selanjutnya adalah survey selektif dan ringkas mengenai paradigma ini, diorganisasi di atas dasar tiga ciri umum: ideologi, ketimpangan dan kekuasaan, serta teori sosial. Survey ini bermaksud menerapkan suatu kontras mutlak antara CDA dengan perkembangan kritis lain dalam bahasa. CDA adalah sumbangsih orisinil terhadap paradigma kritis ini, dan beberapa akademisi yang kami sebutkan di bawah ini (misal, Cameron, Rampton) dapat dikatakan telah dipengaruhi oleh CDA. Juga, beberapa cabang CDA mengambil manfaat dari perkembangan kritis dalam antropologi bahasa, yang terkenal adalah kajian-kajian literacy yang telah disebutkan di atas.

Ideologi Satu ciri terkenal adalah pengembangan ideologi ke dalam suatu topik investigasi dan elaborasi teoritis yang krusial. Dalam antropologi bahasa, karya Michael Silverstein tentang ideologi-ideologi bahasa mempunyai pengaruh kuat, dan membangkitkan suatu tradisi penelitian dengan daya dorong yang relatif kritis. Mulai dari sudut pandang ideologi bahasa sebagai melekat dalam struktur bahasa (Silverstein 1979), pandangan yang lebih luas dari fenomena ideologi-bahasa telah dikembangkan (untuk survey, lihat Woolard dan Schieffelin 1994, Woolard 1998) dan digunakan untuk menganalisa pola-pola pemakaian bahasa dan hubungan interbahasa/intervaritas yang mengusung konotasi kebijakan atau kekuasaan sosial yang jelas (Silverstein 1996, Schieffelin dan Doucet 1998, Errington 1998, Spitulnik 1998). Penelitian-penelitian baru ke dalam aspek mediasi, intertekstualitas, dan representasi (mengambil secara intensif pemikiran-pemikiran Peirce, Bakhtin, dan Habermas) mendorong penelaahan-penelaahan penting ke dalam otoritas dan hirarki genre dan cara berbicara (Gal & Woolard 1995) serta ke dalam dinamika kontekstualisasi dan watak teks dan tekstualisasi (Hank 1989, Bauman & Briggs 1990, Silverstein & Urban 1996). Fokus yang diperbaharui mengenai ideologi membentuk suatu cara baru memformulasikan hubungan masyarakat-bahasa dan membuka jalan baru untuk menganalisa praktik bahasa dan secara reflektif mendiskusikan praktik analitik. Tradisi-tradisi akademisi ditinjau dalam cahaya pertanyaan-pertanyan yang dirumuskan kembali itu (Irvine 1995; Blommaert 1996, 1997b), dan membentuk pandangan bahasa dan masyarakat yang dipertanyakan (Silverstein 1998). Terlepas dari penerimaan yang luas atas pengertian “konstruksi” dalam penelitian semacam itu, suatu stimulus penting untuk penelitian reflektif ke dalam praktik-praktik analitik disediakan oleh karya Goodwin (1994) mengenai “visi profesional,” yang sampai pada suatu perspektif yang kritis secara mendalam mengenai otoritas profesional dan status pakar dalam masyarakat kontemporer, dan yang ditunjukkan dengan sangat rinci kekokohan status dan otoritas semacam itu dan praktik sosial yang dikondisikan dan dikontekstualisasikan. Hasil yang serupa dihasilkan oleh Mertz (1992) dalam analisa strategi pengajaran diskursif dari profesor-profesor di Universitas Hukum Amerika.

Ideologi juga menjadi perhatian krusial di luar antropologi bahasa. Dalam lingkungan sosiolinguistik di Eropa dan di mana-mana, perhatian yang serupa terhadap teori-teori yang implisit itu menjadi landasan pandangan-pandangan mapan tentang praktik bahasa dan bahasa yang muncul kurang lebih dalam periode yang sama. Kumpulan esai Joseph & Taylor (1990) yang mengubah dasar dalam menginvestigasi pondasi ideologis dari ilmu bahasa, mengamati bahwa “bahasa barangkali lebih merupakan masalah ketimbang solusi” dalam ilmu sosial (Laurendeau !990:206). Williams (1992) menyediakan suatu kritik teoritik-sosial yang tajam terhadap sosiolinguistik arus utama, menunjukkan landasan fungsionalis-struktural Parsoniannya (lihat juga Figueroa 1994). Sementara itu, Milroy & Milroy (1985) menulis suatu kajian monumental mengenai purisme linguistik dan preskriptivisme, dan Cameron juga mengidentifikasi sejumlah fenomena ideologis bahasa yang dilabeli verbal hygiene (Cameron 1995) dan bersama-sama menulis kumpulan esai kritis yang penting mengenai praktik penelitian sosiolinguistik (Cameron dkk 1992)

Dalam ranah pragmatik, ideologi menjadi ranah utama penelitian (Verschueren 1999). Kesadaran reflektif mengenai ideologi-ideologi yang memandu praktik-praktik akademis telah dibuktikan dalam survey kritis mengenai salah satu cabang pragmatis paling terkenal, teori politeness (Eelen 1999, Kienpointner 1999). Dipicu oleh karya Bourdieu dan Latour, para ahli bahasa terapan juga mulai menginvestigasi asumsi yang mendasari analisa dalam pendidikan (misal Alexander dkk 1991) dan dalam domain praktik profesional lainnya (Gunnarson dkk 1997, Linell & Sarangi 1998).

Ketimpangan dan Kuasa Ciri kedua paradigma kritis adalah perhatian yang diperbaharui atas ketimpangan dan kuasa dalam kaitannya dengan bahasa dalam masyarakat. CDA tentunya tidak sendirian dalam kecenderungannya untuk wacana “kuat” lainnya dan politik sebagai obyek analisis. Antropolog bahasa seperti Bloch (1975) dan Brenneis & Myers (1984) melakukan dobrakan dengan kumpulan kajian yang berpengaruh mengenai genre wacana politik dalam masyarakat non-Barat, dan jalur karya ini diteruskan dengan hasil teoritis yang penting oleh akademisi lain (misal, Duranti 1988). Karya serupa sebelum CDA adalah karya Mey (1985), yang dihadirkan sebagai suatu kontribusi teori pragmatis. Kajian Wilson (1990) yang berpengaruh mengenai wacana politik adalah pragmatik dalam pendekatan dan sasarannya, seperti halnya, Diamond (1996), Harris (1995), dan Kuzar (1997). Kajian-kajian seperti yang dilakukan oleh Flowerdew (1998) didasarkan pada analisa retorika. Serupa dengannya, setting profesional yang di dalamnya ketidakimbangan kekuasaan yang terjadi dibongkar dengan beragam tradisi wacana-analitis di dalam pragmatik, yang terkenal analisa conversation (misal, Firth 1995, Grossen & Orvig 1998).

Suatu isu yang mengemuka di dalam penelitian adalah ketimpangan dan pemosisian individu dan kelompok dalam hirarki politik dan sosial kontemporer. Esai-esai kritis edisi ulang Hymes (1996) tentang pendidikan dan narasi membuka kembali perdebatan mengenai alokasi hak-hak berbicara dan sumberdaya bahasa-komunikatif, menawarkan suatu penilaian kembali atas Bernstein (di samping Bourdieu dan Habermas), dan berpendapat dengan menyakinkan untuk memberi perhatian lebih terhadap ketimpangan komunikasi dalam antropologi bahasa dan sosiolinguistik. Titik perhatian ketimpangan semacam itu ditemukan dalam perbedaan antara sumberdaya narasi yang tersedia (misal bahasa sehari-hari, dialek, anekdot) dan (kerap secara kelembagaan) membutuhkan sumberdaya naratif (misal, standard, literate, logika) (bandingkan juga Ochs & Capps 1996). Serupa dengan itu, dua volume yang diedit oleh Charles Briggs (1996, 1997b) belakangan ini, melanjutkan satu volume sebelumnya yang diedit oleh Grimshaw (1990), memberi tempat tinggi konflik dan sumberdaya diskursifnya pada agendanya. Yang terutama, Briggs menunjukkan bagaimana konstruksi teks dan wacana lintas konteks—proses entekstualisasi—dapat menghasilkan efek sosial yang berdaya, sehingga memfokuskan pada ketimpangan dalam kontrol atas konteks (lihat Barthes 1956) di samping atas genre khusus dan cara berbicara. Kekuasaan tergantung tidak hanya pada akses terhadap sumberdaya melainkan juga akses terhadap konteks yang di dalamnya sumberdaya dapat digunakan. Kemiripan antara program penelitian ini dan analisa intertekstual yang diajukan oleh Fairclough (1992a) terlihat mencolok.

Perhatian rinci terhadap narasi juga menyediakan lahan subur untuk menginvestigasi sejarah dan hubungan kuasa historis yang menempatkan orang dalam ruang sosiogeografis mereka saat ini. Dari perspektif yang berbeda, baik Collins (1998) dan Fabian (1990) menunjukkan bagaimana narasi-narasi sejarah kelompok (atau geografis lokal) dapat menghasilkan jejak-jejak hubungan masa lalu antara hegemoni-hegemoni politik, kognitif, dan ideologis dan pola-pola perlawanan. Perhatian yang serupa terhadap bahasa dan sejarah sosial menghasilkan tubuh karya yang inovatif dalam sosiolinguistik, yang di dalamnya bahasa-bahasa dan ragam bahasa digambarkan dalam pengertian indexicalities yang dipolitisasi (atau dapat dipolitisasi). Maka kita sampai pada pandangan-pandangan bahasa dalam masyarakat yang tergantung pada hirarki kekuasaan, semiotika kekuasaan, dan dampak kekuasaan, kerap berkaitan dengan politik-politik identitas dan dipengaruhi oleh kerja aktor-aktor politik yang dapat diidentifikasi dalam masyarakat (Woolard 1989; Heller 1994, 1999; Jaffe 1999). Pengaruh Bourdieu dan Gramsci jelas dalam karya ini, seperti tendensi untuk mengkerangkai kisah bahasa dalam masyarakat dalam pengertian materialis dan tendensi untuk mencampur pengamatan sosial dan politik berskala besar dengan analisa rinci tentang praktik-praktik komunikasi-bahasa (maka sampai pada apa yang disebut Heller (1999) suatu “etnografi sosiolinguistik”]. Karya yang penting dalam hal ini adalah karya Rampton (1995). Rampton mengkaji cara-cara bagaimana identitas-identitas subkultur dibentuk dan dimanipulasi dengan menggunakan berbagai macam gaya komunikatif di antara kelompok-kelompok remaja multi-etnis di Inggris. Mengambil banyak sumber teoritik-sosial (termasuk yang terkenal Gidden, Gilroy, dan Goffman), Rampton menunjukkan praktik-praktik alokasi yang fleksibel dari sumberdaya komunikatif dalam karya identitas. Korelasi-korelasi yang sederhana antara identitas dengan variasi/gaya wicara tidaklah kuat, dan apa yang menjadi jelas adalah bahwa hubungan linier seperti antara “pembicara asli (native speaker),” “kompetensi,” dan suatu identitas kelompok tertentu merupakan perangkat-perangkat yang kurang memuaskan untuk memahami rumitnya kerja kepakaran dan afiliasi yang dapat dideteksi di ranah itu.

Semua pendekatan yang didiskusikan sejauh ini memberikan tempat untuk isu-isu sumberdaya komunikatif-linguistik yang ditempatkan bertentangan dengan suatu latar belakang ganda dari proses sosial berskala-besar di satu sisi, dan peristiwa-peristiwa interaksi beringkat-mikro di sisi lain. Hubungan antara bahasa dengan struktur sosial tidak dibuat a priori; lebih dari itu, hubungan itu dicari dalam interplay praktis antara tindakan-tindakan kongkret dengan pola-pola dan kekuatan-kekuatan tingkat masyarakat atau kelompok. Dalam karya-karya seperti karya Rampton dan Briggs, perpaduan etnografi dengan sosiolinguistik telah mendorong suatu perlakuan konteks yang sangat produktif dan bernuansa sebagai diproduksi baik secara online maupun situsional, namun terikat pada kondisi yang lebih luas dari produksi dan sirkulasi sumberdaya semiotik dalam cara yang dapat dibuktikan secara empiris. Karya semacam ini maka menawarkan koreksi yang penting baik terhadap batasan konteks analitik-conversation ke konteksnya anggota berorientasi dan satu waktu (Briggs 1997a) maupun terhadap “narasi” dan “konteks-latar belakang-dengan pengrtian CDA. Tak perlu dikatakan, jenis kerja ini juga menawarkan keuntungan atas kerja yang memfokuskan pada perbedaan-perbedaan tanpa mempertimbangkan cara-cara yang di dalamnya perbedaan-perbedaan secara sosial bertingkat dan menjadi isu penting (sebagaimana banyak karya mengenai komunikasi interkultural), di samping atas karya yang mengasumsikan hubungan yang relatif stabil antara berbagai macam linguistik dan fungsi sosiopolitik (sebagaimana karya dalam paradigma “hak-hak linguistik”).

Teori Sosial Tiga ciri paradigma kritis, telah disebutkan sebelumnya, merupakan hasrat bersama untuk menemukan topangan teoritik-sosial untuk menganalisa bahasa. Bahasa dipelajari untuk apa yang dikatakannya mengenai masyarakat, dan metode bahasa seharusnya terbuka untuk penelaahan teoritis ke dalam struktur masyarakat. Ada sehimpun literatur yang menyerukan penggunaan teori sosial di dalam analisa bahasa, kerap mengajukan pendekatan materialis untuk mempertanyakan sumber-sumber bahasa dan pemakaian sosial bahasa, dan terlibat dalam diskusi pemikir-pemikir Marxis, mulai dari Gramsci dan Bourdieu sampai Rossi-Landi (Woolard 1985, Rickford 1986, Laurendeau 1990, Irvine 1989, Gal 1989). Peninjauan kembali karya Bernstein oleh Hymes (1996) telah disebutkan. Suatu pencangkokan teori historis ke dalam analisa bahasa dalam masyarakat diupayakan dalam Blommaert (1999). Goodwin (1994) secara mengesankan menunjukkan bagaimana pakar profesional, dilihat dalam pengertian praktik semiotik yang dikondisikan melibatkan wacana, praktik badaniah, dan institusionalisasi, dapat dipandang sebagai “kuasa-pengetahuan” Foucaultian.

Sumber-sumber untuk penelaahan baru tidaklah terbatas, dan hanya sedikit saja yang telah digunakan dari sejumlah besar perkembangan potensial disiplin-disiplin yang lain. Teori Historis sejauh ini jarang digunakan sebagai sumber untuk kajian kritis bahasa, meskipun jelas sangat relevan kontribusi pemikir-pemikir, seperti misalnya, Marc Bloch, Fernand Braudel, Carlo Ginzburg, Peter Burke, Immanuel Wallerstein, dan Edward Thompson. Demikian pula kurang diperhatikan, dari arah yang bertentangan, adalah efek potensial dari reinterpretasi baru, mapan secara etnografi, dari Benjamin Lee Whorf (disediakan di antara yang lain oleh Hymes dan Silverstein) mengenai teori sosial. Gagasan tingkat metakomunikatif dalam perilaku komunikatif sosial di samping relativitas fungsional bahasa, gaya, dan genre mempunyai potensi untuk menjadi perangkat kritis yang penting baik untuk linguistik dan disiplin sosial-saintifik lain yang di dalamnya ciri perilaku komunikatif dan bahasa—sejarah, antropologi, psikologi, dan sosiologi langsung masuk pikiran. Efek dari penelaahan-penelaahan itu pada cara-cara yang di dalamnya teks, narasi, bukti dokumen, dan seterusnya diperlakukan sebagai sumber “makna” (atau “informasi”) dapat memberi kontribusi secara signifikan terhadap kesadaran yang lebih besar atas aspek kekuasaan yang kecil tapi sangat relevan dalam material-material semacam itu.

Menilai CDA

Survey selektif di atas bertujuan untuk menunjukkan bahwa CDA, sebagai disiplin orisil dan menarik, seharusnya ditempatkan di dalam panorama yang lebih luas dari perhatian, pertanyaan, dan pendekatan sama yang berkembang di antara komunitas akademisi yang lebih luas. Pada saat yang sama, CDA mungkin mengambil manfaat dari potensi kritis perkembangan-perkembangan yang berkaitan itu sehingga dapat memperbaiki beberapa kelemahan teoritis dan metodologinya, terutama apa yang berkaitan dengan perlakuan terhadap konteks dalam CDA. Hal belakangan itu menjadi isu metodologis terbesar yang dihadapi oleh CDA.

Pada tingkat-mikro, instansi kongkret bicara atau fitur kongkret teks dapat dianalisa secara lebih memuaskan jika suatu konsep konteks yang lebih dinamis—kontekstualisasi—digunakan. Perkembangan dalam antropologi linguistik, yang di dalamnya proses kontekstualisasi (de- dan rekontekstualisasi, entekstualisasi (Bauman & Briggs 1990, Silverstein & Urban 1996)] dapat menjadi sumber inspirasi yang subur untuk mengembangkan suatu konsep konteks yang dinamis. Umumnya, perhatian yang lebih terhadap etnografi sebagai sumber data yang mengkontekskan dan sebagai teori untuk menafsirkan data dapat mengatasi beberapa masalah sekarang dengan konteks dan penafsiran dalam CDA (untuk diskusi dan argumen umum, lihat Duranti & Goodwin 1992, Auer & diLuzio 1992).

Pada tingkat-makro, CDA tampak sedikit menaruh perhatian pada persoalan distribusi dan pola ketersediaan/aksesibilitas dari sumber-sumber linguistik-komunikatif. Hanya teks menjadi obyek ekonomi politik; kondisi produksi teks dan lebih khusus cara yang di dalamnya sumber-sumber yang masuk ke teks dikelola dalam masyarakat jarang didiskusikan (misalnya mengenai literacy, kontrol atas kode, dll). Pada titik ini, karya sosiolinguistik dan linguistik-antropologis terbaru, seperti karya Hymes, Briggs, Woolard, Gal, Rampton, dan Heller dapat relatif menyumbang gambaran yang lebih baik tentang bahasa, genre, dan gaya, sebagai melekat dalam khazanah yang fleksibel tapi sangat sensitif yang mempunyai sejarah distribusi sosiopolitik. Sumber-sumber linguistik adalah konteks dalam pengertian bahwa mereka adalah bagian dari kondisi-kondisi produksi segala ucapan atau teks dan karenanya menentukan apa yang dapat dan tidak dapat dikatakan oleh beberapa orang dalam beberapa situasi.

Cara yang di dalamnya CDA memperlakukan historisitas teks (sebagian besar dapat direduksi pada asumsi mengenai rantai intertekstual) dapat mengambil manfaat dari penelaahan teoritis historis yang sejati. Pada satu sisi, persediaan dapat diambil dari perspektif “sejarah alamiah dari wacana” yang dikembangkan oleh Silverstein & Urban (1996); di sisi lain, kesadaran akan suatu historisitas intrisik dan berlapis dari masing-masing peristiwa sosial dapat memberi kontribusi pada penilaian yang lebih akurat atas apa yang dilakukan teks-teks tertentu dalam masyarakat. Kontekstualisasi data wacana dapat mengambil manfaat dari titik pijak yang lebih cermat pada posisi historis peristiwa-peristiwa yang di dalamnya data wacana disusun (di samping posisi historis dari momen analisa: “kenapa sekarang?” merupakan pertanyaan yang relevan dalam analisa).

CDA masih dibebani oleh suatu pandangan yang sangat “linguistik”, yang mencegah cara-cara produktif untuk mencangkokkan dimensi linguistik dan non-linguistik dari semiosis (terlihat, misal, penafsiran terhadap “wacana” Foucault yang sangat parsial dalam karya Fairclough). Di sini juga, titik pijak yang terlihat lebih etnografis, yang di dalamnya praktik linguistik diimbuhkan ke dalam pola yang lebih umum dari tindakan bermakna manusia, dapat menjadi sangat produktif. Karya Goodwin bisa dijadikan contoh di sini

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: